Minggu, 28 Desember 2008

Di kampus ini

di kampus ini,
telah ditamankan kemerdekaan
segala despot
takkan meruntuhkan
mimbar kami
[taufik ismail, 1966, jatuhnya orla]

ket: despot=>kekuasaan yg zhalim

Kamis, 18 Desember 2008

nyopot lagi...[ini dah izin bos!]

Mata sayu seorang pandu

bergumul dengan batu

berbasuh peluh penuh sungguh
menatap angkasa biru
haru

kenyataan mengajarkan keteguhan
menghamba Tuhan
kian terang,
aku: insan

tak perlu tekan pekan dan bulan
cukup hengkang bayang
tak pelak lagi
menang

memang, gamang dan enggan tak cuma sekeranjang
tapi bergudang
lebih keras daripada si intan lajang
ia...garang
dan bukan sembarang

hendak berdiri hati ini
berbisik pada negeri yang berisik
bangkit dan berkutik

lelah jiwa tak beriba,
puing relung yang menggunung
menyeretku tuk berkidung
mendengung

namun, bahtera ini terus berlayar
menebar tegar segar dan sabar

sadar 'kan Sang Penawar
tlah bunuh sgala buyar

Blimbingsari-Yogyakarta, 29 Mei 2004

Senin, 08 Desember 2008

Minggu, 07 Desember 2008

Kuntum bunga tak jadi mekar

secercah cahaya
kan terbit disana
menerangi alam sekelilingnya
namun terhalang kabut pekat tebal
tirani durjana angkara murka

kuntum bunga tak jadi mekar
lesu layu karena makar
jatuh dipusara
persada mulia
wangi kersturi jumpa ilahi

tiang tak terpancang
jatuh berserakan
ditimpa petaka laskar jahanam
bunga islam lahir
kepangkuan kafir
untuk hasut ingkari al haqqi
(izzatul islam, 94, when Bosnia was occupied)

Roso....

Sang bapak Memainkan gambang
dengan sang anak meniup seruling

Tidak terlalu keras, hanya lirih lirih saja
Terciptalah gaung suasana yang adem dan tentram

Sekali-sekali burung cucakrawa mengicau
lirih, sang anakpun ikut menyanyi

Sepat domba kali oya
ojo dolan lang wong pria…

Akan terasa satu suasana aneh yang datang dari arah yang agak jauh
Tidak bisa dijelaskan suasana apa itu,
Tapi ada perasaan damai.
Itulah ROSO….

[Umar Kayam, Jalan menikung hal 105]

Sabtu, 06 Desember 2008

dari adik kelas yang kupastikan yg tak mengenalku

Datanglah sesekali di kotaku,
kan kuajak kau mereguk makna,
dari jalan yang kau injak debunya.

Di sini suara adzan membaur dengan teriakan mahasiswa,
Para Guru Besar merumuskan filsafat di mimbar-mimbar,
sedang rapal-rapal mantra menguar bersama asap kemenyan.

Datanglah sesekali ke kotaku,
di sela hiruk pikuk perjalanan hidupmu,
akan kuajak kau meresapi malam,
di mana pelacur sibuk bergincu,
orang-orang pandai mengkaji ilmu,
ulama memutar tasbih dengan penuh haru,
sedang di sudut sana,
gelandangan mencoba memaknai hidup yang semu.

Datanglah dan lihatlah,
bahwa Parangtritis, Krapyak, Kraton, Tugu, dan Merapi adalah saksi dari perjalanan para raja
yang sejarahnya menjelma menjadi legenda.

Tengadahkan wajahmu dan pandanglah langit kotaku,
dan mengertilah bahwa di sini adalah warna-warna,
yang tidak akan pernah sanggup,
dirangkum oleh pelangi.

Saya cinta Jogja, Cinta Jogja sekali....!

Bekayuh di wai Ghranau

bekayuh di way ranau
dang lupa pakai peluha

dipa ya jelma ranau
udi sai rajin sembahyang bedua